Rabu, 25 April 2012

PERMISALAN DUNIA DAN PARA PENGHUNINYA


Ibnu Qudamah Al-Maqdisy : “Sesungguhnya pernah terbetik dalam pikiranku untuk mempermisalkan dunia dan para penghuninya dengan para penumpang di sebuah bahtera yang terdampar di sebuah pulau disebabkan angin lautan yang sangat kencang menghantam mereka. Pulau itu sendiri adalah tambang segala permata dan batu mulia; yaqut, zamrud, zabarjah, mutiara, intan dan emas serta bebatuan indah lainnya dan tanaman yang beraroma harum semerbak.

Di pulau itu juga terdapat sungai-sungai yang mengalir dan aneka taman. Akan tetapi, di sana juga ada sebuah wilayah yang hanya menjadi kekuasaan seorang raja. Tempat itu dikelilingi dan dibatasi oleh pagar dan tembok yang melindungi perbendaharaan kekayaan sang raja beserta semua keluarga dan budak-budaknya.

Maka tatkala para penumpang bahtera itu turun di pulau itu, kepada mereka diumumkan : “Kalian akan tinggal di pulau ini hanya dalam sehari semalam. Karenanya gunakanlah waktu kalian yang amat singkat ini untuk sedapat-dapatnya mengumpulkan mutiara-mutiara berharga yang bertebaran...”

Orang-orang yang memiliki cita-cita tinggi dan tekad yang kuat pun segera memilih dan mengambil mutiara-mutiara berharga yang dimaksud untuk kemudian menyimpannya dalam lemari-lemari penyimpanan mereka dalam bahtera itu. Mereka bersungguh-sungguh dan serius dalam bekerja. Bila keletihan menyerang mereka, mereka akan segera mengingat betapa berharganya nilai mutiara-mutiara yang telah mereka dapatkan. 

Mereka juga segera menguatkan hati mereka dengan mengingat betapa singkatnya waktu yang disediakan buat mereka untuk tinggal di pulau itu, dan bahwa mereka sesaat lagi akan pergi meninggalkannya...

Mereka sadar betul bahwa saat waktu untuk pergi itu tiba, tidak ada lagi kesempatan untuk menambah perbekalan mereka. Bila mereka mengingat itu semua, mereka tidak ingin lagi beristirahat. Mereka meninggalkan segala kesenangan, lalu melanjutkan kesungguhan dan pekerjaan mereka. Bila rasa kantuk mulai menyerang mereka, mereka kembali mengingat itu semua hingga kenikmatan tidur itupun sirna... keletihannya pergi...

Adapun sekelompok penumpang yang lain, mereka mengumpulkan beberapa mutiara saja lalu beristirahat dan tidur bila waktu rehat dan tidur tiba.

Sedangkan penumpang yang lainnya sama sekali tidak menyentuh mutiara-mutiara itu sedikitpun. Mereka lebih memilih untuk tidur, bersenang-senang dan berleha-leha. Diantara mereka ada yang memilih membangun rumah, istana dan bangunan yang megah. Ada pula yang sekedarnya saja mengumpulkan bejana dan batuan tak bernilai. Ada pula yang bermain-main dan mendengarkan perkataan dusta. Mereka benar-benar hanya menyibukkan diri mereka dengan menikmati kelezatan-kelezatan, mendengarkan hikayat-hikayat sserta alunan musik yang membuai. Bagi mereka, “biji padi yang dapat dituai hari ini lebih baik daripada permata yang dijanjikan kelak.”

Jenis penumpang ketiga ini mulai melirik wilayah kekuasaan sang raja. Mereka mengitarinya. Namun tidak ada pintu yang mengantarkan mereka masuk kesana. Mereka pun mulai membuat celah dan masuk secara paksa ke dalam wilayah itu. Mereka membuka (khazanah) simpanan kekayaan sang raja, menghancurkan pintu-pintunya, merampas apa saja yang ada disitu dan berbuat tidak senonoh terhadap budak dan anak-anak sang raja. Mereka mengira, “kami tidak punya tempat tinggal lain selain tempat ini.”

Dan mereka terus saja berbuat seperti itu hingga masa sehari semalam itu habis...

Hingga akhirnya...

Lonceng tanda keberangkatan pun dibunyikan. Panggilan untuk para penumpang pun dikumandangkan agar mereka bergegas. Bergegas menaiki behtera lalu pergi meninggalkan pulau itu...

Mereka yang telah mengumpulkan begitu banyak mutiara dan menyimpannya menyambut panggilan itu dengan suka cita. Dengan gembira mereka membawa semua hasil kerja mereka selama di pulau itu. Mereka sama sekali tidak bersedih, kecuali karena tidak bisa lagi mengumpulkan permata dan intan yang lebih banyak lagi.

Sedangkan kelompok penumpang yang kedua, kesedihan mereka semakin bertambah sebab mereka tidak sungguh-sungguh mengumpulkan permata-permata berharga itu. Begitu banyak kelalaian mereka. Sementara bekal yang terbawa hanya sedikit. Semakin sedihlah mereka karena mereka akan meninggalkan rumah yang telah mereka bangun... dan mereka tidak lagi punya waktu untuk mengumpulkan bekal lebih banyak lagi.

Yang paling celaka adalah kelompok penumpang yang ketiga. Musibah mereka jauh lebih besar. Kepada mereka dikatakan, “kalian tidak akan dilepaskan hingga kalian mengembalikan segala yang telah kalian ambil dari khazanah (simpanan) sang raja!” mereka akhirnya  berangkat tanpa membawa bekal apa pun... menempuh perjalanan yang menakutkan...

Perjalanan bahtera itu pun akhirnya berakhir juga di kota tujuan paling akhir. Di tempat itulah sang raja yang diagungkan tinggal dengan segala kekuasaanya. Pada saat bahtera itu tiba di kota ini, segera diumumkan kepada seluruh penghuni kota: “kini telah tiba suatu kaum yang dahulu pernah singgah di sebuah pulau tambang emas dan permata...” Para penduduk kota berduyun-duyun menyambut mereka. Sang raja yang diagungkan beserta para prajuritnya begitu pula. Dan saat sang raja melihat mereka, ia bertitah: “perlihatkanlah barang bawaan kalian padaku !”

Maka dengan suka cita, para penumpang yang telah berhasil mengumpulkan permata di pulau itu menunjukkan bawaan mereka kepada sang raja. Raja senang. Ia memuji mereka seraya berkata: “kalian adalah orang-orang khususku, ahli majelis dan kecintaanku. Kalain boleh mendapatkan apa saja yang kalian inginkan dari kemurahanku.”

Sang raja kemudian mengangkat mereka menjadi raja-raja seraya memberikan kepada mereka apa yang mereka inginkan. Bila mereka meminta, mereka akan diberi. Saat mereka memberi syafaat, syafaat mereka dikabulkan. Apa yang amereka inginkan semua ada di situ.

Kepada mereka disampaikan; “ambillah apa yang kalian inginkan dan putuskanlah apa yang kalian kehendaki!”

Mereka pun segera  mengambil istana-istana, rumah-rumah tinggi dan mewah, bidadari-bidadari, taman-taman dan wilayah kekuasaan. Mereka juga mengendarai berbagai kendaraan. Berjalan diiringi para budak dan pengawal yang setia mengawal mereka.

Mereka menjadi penguasa yang selalu mengunjungi, menemani dan memandang sang raja yang diagungkan. Bila mereka meminta sesuatu, raja akan segera memberinya bahkan sebelum mereka memintanya pun sang rajalah yang akan terlebih dahulu memberikan pada mereka.

Adapun kelompok penumpang kedua, saat mereka ditanya:

“Dimanakah gerangan barang bawaan kalian?” Mereka menjawab: “kami tidak mempunyai barang bawaan...”

“Celakalah kalian! Bukankah kalian telah berada di tambang emas dan permata? Bukankah kalian dan mereka yang telah menjadi kekasih sang raja yang diagungkan itu pernah berada dalam tempat yang sama??”

“Iya, tentu saja. Namun kami lebih memilih untuk berleha-leha dan tidur disana,” jawab mereka. “Kami disibukkan untuk membangun rumah dan tempat tinggal,” jawab yang lain. “Sementara kami disibukkan hanya untuk mengumpulkan bebatuan dan kerang,” ujar yang lain lagi.

Maka dikatakanlah kepada mereka: “kalian sungguh celaka! Tidakkah kalian mengetahui betapa singkatnya masa tinggal kalian di pulau itu?? Dan betapa berharganya nilai permata yang ada disana? Bukankah kalian mengetahui bahwa pulau itu bukanlah tempat tinggal kalian yang sesungguhnya?? Bukankah kalian telah diberikan peringatan dan nasihat oleh para pembawa nasihat?!”

“Tentu, demi ALLAH! Kami sungguh mengetahuinya, tapi kami pura-pura bodoh. Kami telah dibangunkan, namun kami pura-pura tidur. Kami mendengarkan namun kami pura-pura tuli dan tidak mendengarkan,”jawab mereka.

Mereka hanya bisa menggigit jari dengan penuh penyesalan. Menangisi kelalaian mereka dengan air mata yang mengalir. Terdiam menyesal dan kebingungan. Berdiri menunggu apakah ada diantara orang-orang yang telah menjadi raja itu akan memberi syafaat untuk mereka dan menyampaikan masalah mereka kepada raja yang diagungkan!

Sedangkan kelompok yang ketiga, mereka lebih galau lagi. Mereka telah merusak wilayah kekuasaan raja di pulau itu. Mereka datang seraya memikul dosa-dosa di atas panggung mereka. Putus asa. Diam membisu. Penuh kebingungan dan kelimpungan. Kaki mereka tergelincir. Penyesalan meliputi hati mereka. Rasa sakit telah mereka rasakan. Mereka dipermalukan dihadapan umat manusia.

Sang raja yang diagungkan murka kepada mereka. Raja pun mengusir dan menjauhkan mereka dari istananya. Mereka sungguh-sungguh yakin bahwa kini siksa dan adzablah yang menanti mereka.


--> PERMISALAN DI ATAS CUKUP BAGI KITA UNTUK MERENUNGI, APA SAJA YANG SUDAH KITA AMBIL DARI DUNIA INI! APAKAH UNTUK MENJADI BEKAL NANTI DI AKHIRAT? ATAUKAH UNTUK MENJADI SAMPAH NANTI DI AKHIRAT? 


((PILIHLAH PERMISALAN PENUMPANG YANG PERTAMA))-ITU BAIK UNTUK KITA SEKARANG DAN NANTI

Kamis, 12 Januari 2012

11 jenis manusia di doa malaikat

PERCAYA kepada malaikat adalah antara rukun iman. Ada malaikat yang ditugaskan berdoa kepada makhluk manusia dan sudah tentu seseorang yang didoakan malaikat mendapat keistimewaan.
Dalam hidup, kita sangat memerlukan bantuan rohani dalam menghadapi ujian yang kian mencabar. Bantuan dan sokongan malaikat sangat diperlukan. Ketika kita menghadapi masalah, kerumitan, keperluan dan bimbingan, bukan saja kita perlukan kekuatan doa dari lidah, tetapi juga sokongan malaikat. Antara orang yang mendapat doa malaikat ialah:
1. Orang yang tidur dalam keadaan bersuci. Rasulullah s.a.w bersabda, maksudnya:
“Sesiapa yang tidur dalam keadaan suci, malaikat akan bersamanya di dalam pakaiannya. Dia tidak akan bangun hingga malaikat berdoa: “Ya Allah, ampunilah hamba-Mu si fulan kerana tidur dalam keadaan suci.”

2. Orang yang sedang duduk menunggu waktu solat. Rasulullah s.a.w bersabda maksudnya:
“Tidaklah salah seorang antara kalian yang duduk menunggu solat, selama ia berada dalam keadaan suci, kecuali kalangan malaikat akan mendoakannya: ‘Ya Allah, ampunilah ia. Ya Allah sayangilah ia.’

3. Orang yang berada di saf depan solat berjemaah. Rasulullah s.a.w bersabda, maksudnya:
“Sesungguhnya Allah dan kalangan malaikat-Nya berselawat ke atas (orang) yang berada pada saf depan.”
4. Orang yang menyambung saf pada solat berjemaah:Rasulullah s.a.w bersabda, maksudnya:
“Sesungguhnya Allah dan kalangan malaikat selalu berselawat kepada orang yang menyambung saf.”
5. Kalangan malaikat mengucapkan ‘amin’ ketika seorang imam selesai membaca Al-Fatihah. Rasulullah s.a.w bersabda maksudnya:
“Jika seorang imam membaca…(ayat terakhir al-Fatihah sehingga selesai), ucapkanlah oleh kamu ‘aamiin’ kerana sesiapa yang ucapannya itu bertepatan dengan ucapan malaikat, dia akan diampuni dosanya yang lalu.
6. Orang yang duduk di tempat solatnya selepas melakukan solat. Rasulullah s.a.w bersabda, maksudnya:
“Kalangan malaikat akan selalu berselawat kepada satu antara kalian selama ia ada di dalam tempat solat, di mana ia melakukan solat.”
7. Orang yang melakukan solat Subuh dan Asar secara berjemaah. Rasulullah s.a.w bersabda maksudnya:
“Kalangan malaikat berkumpul pada saat solat Subuh lalu malaikat (yang menyertai hamba) pada malam hari (yang sudah bertugas malam hari hingga Subuh) naik (ke langit) dan malaikat pada siang hari tetap tinggal. “Kemudian mereka berkumpul lagi pada waktu solat Asar dan malaikat yang ditugaskan pada siang hari (hingga solat Asar) naik (ke langit) sedangkan malaikat yang bertugas pada malam hari tetap tinggal lalu Allah bertanya kepada mereka: “Bagaimana kalian meninggalkan hamba-Ku?” Mereka menjawab: ‘Kami datang sedangkan mereka sedang melakukan solat dan kami tinggalkan mereka sedangkan mereka sedang melakukan solat, ampunilah mereka pada hari kiamat.’ “
8. Orang yang mendoakan saudaranya tanpa pengetahuan orang yang didoakan. Rasulullah s.a.w bersabda, maksudnya:
“Doa seorang Muslim untuk saudaranya yang dilakukan tanpa pengetahuan orang yang didoakannya adalah doa yang akan dikabulkan. Pada kepalanya ada seorang malaikat yang menjadi wakil baginya, setiap kali dia berdoa untuk saudaranya dengan sebuah kebaikan, malaikat itu berkata ‘aamiin dan engkau pun mendapatkan apa yang ia dapatkan.’”
9. Orang yang membelanjakan harta (infak). Rasulullah s.a.w bersabda, maksudnya:
“Tidak satu hari pun di mana pagi harinya seorang hamba ada padanya kecuali dua malaikat turun kepadanya, satu antara kedua-duanya berkata: ‘Ya Allah, berikanlah ganti bagi orang yang berinfak…’”
10. Orang yang sedang makan sahur. Rasulullah s.a.w bersabda maksudnya:
“Sesungguhnya Allah dan kalangan malaikat-Nya berselawat kepada orang yang sedang makan sahur.”
11. Orang yang sedang melawat orang sakit. Rasulullah s.a.w bersabda, maksudnya:
“Tidaklah seorang mukmin menjenguk saudaranya kecuali Allah akan mengutus 70,000 malaikat untuknya yang akan berselawat kepadanya di waktu siang hingga petang dan di waktu malam hingga Subuh.”

Senin, 09 Januari 2012

Nasihat Ibnu Abbas

Wahai orang yang suka berbuat dosa......
jangan pernah tenang dengan akibat dosamu.......
ketahuilah, banyak hal yang menyertai perbuatan dosamu justru lebih besar dari dosa itu sendiri..........

Hilangnya rasa malu dari dirimu kepada yang ada di samping kanan dan kirimu......
saat kamu melakukkan dosa,, adalah tidak lebih ringan dari dosa itu sendiri......
mengapa kamu tertawa ketika melakukan dosa??......
padahal kamu tidak mengetahui yang akan dilakukan oleh Allah terhadapamu.....
Ia lebih besar dari perbuatan dosamu itu...........

Rasa bahagiamu setelah melakuka dosa adalah lebih berbahaya dari perbuatan dosa itu sendiri........
rasa sedihmu ketika tidak dapat melakukan dosa adalah lebih berbahaya dari perbuatan dosa itu sendiri.....

Kekhawatiranmu jika embusan angin akan menyingkap tirai yang menutupi dosamu, saat kamu melakukannya...
sementara hatimu tidak gelisah dengan pandangan Allah kepadamu,, adalah lebih besar dari perbuatan dosamu itu.......

Wahai orang yang suka berbuat dosa..........
apakah kamu tahu, apa dosa Ayyub as yang menjadi alasan bagi Allah SWT untuk mengujinya dengan penyakit ditubuhnya dan kehancuran kekayaannya???
dosanya adalah hanya karena ada orang miskin yang datang kepadanya untuk meminta bantuan agar ia dibebaskan dari kezhaliman yang dialaminya,, tapi Ayyub as. tidak membantunya.....................

Sabtu, 07 Januari 2012

♥●• Ayah, Ibuku tercinta…Izinkan Ananda Bercadar •●♥


بِسْــــــ…ــــــــمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْـــــمِ
… Cadar… Satu kata yang dulu sempat membuat diriku takut untuk mendekati orang-orang yang memakainya. “Mungkin mereka jelek, makanya menutupi wajahnya, atau mungkin dia mempunyai gigi taring seperti drakula ataukah mungkin dia..begini..begini dan begitu”. Begitu banyak pikiran-pikiran yang menghantuiku ketika masih menjadi orang yang belum tahu tentang syari’at Alloh tentang cadar ini.
Sampai suatu ketika Alloh menakdirkanku untuk mengenal sekumpulan akhwat yang bercadar, “subhanalloh” satu kata yang terlontar dari lisanku waktu itu. Ternyata mereka tidak seperti yang aku pikirkan selama ini, ternyata cadar merupakan salah satu syari’at dari islam.
Berawal dari perkenalanku dengan para akhwat, disitulah awal mula diriku mengenal ilmu yang shohih, hari-hari kujalani dengan ilmu-ilmu yang yang selama ini kuanggap hanya sebatas budaya dan pemikiran orang-orang belaka. Sedikit demi sedikit kuamalkan ilmu yang telah kudapatkan, pergaulan antara lawan jenis, musik, ikhtilath, sampai ke syarat-syarat jilbab yang syar’i pun kulalui dan kuamalkan. Alhamdulillah, meski banyak rintangan dan cobaan dalam mengamalkannya. Tapi begitulah perjuangan. Begitulah konsekuensi dari amalan yang telah kita ilmui. Tapi untuk masalah cadar, ah, diriku sungguh tak tertarik untuk menggunakannya.
Sempat mempelajari tentang hukum dari cadar dan waktu itu berkeinginan untuk mempelajarinya lebih dalam, tapi teringat akan ucapan bapak, “kamu boleh pakai jilbab yang besar tapi jangan sampai bercadar. Nanti boleh bercadar kalau sudah nikah.” Ya sudahlah mendingan aku ambil hukum yang sunnahnya saja, daripada bapak marah. Toh nanti kalau dah nikah aku akan pakai cadar juga insya Alloh, untuk sekarang ga usahlah, pikirku dalam hati. Akhirnya niat untuk mempelajari hukum cadar lebih lanjutpun aku urungkan.
“Astghfirulloh, apakah jilbab yang sudah cukup lebar ini masih bisa saja menimbulkan fitnah bagi seorang laki-laki?”
Manusia boleh berencana tapi Alloh lah yang berhak menentukan jalan hidup kita. Alhamdulillah, hidayah Alloh datang kepadaku, yang awal mulanya diriku begitu kekeh untuk tidak bercadar, niat untuk mempelajari hukumnya pun ogah-ogahan, namun Alloh menakdirkan padaku untuk lebih mengetahui tentang cadar ini melalui sebuah fitnah yang kualami di kampus. Seorang teman memberitahukan padaku bahwa ada seseorang yang terfitnah gara-gara diriku. “Astghfirulloh, apakah jilbab yang sudah cukup lebar ini masih bisa saja menimbulkan fitnah bagi seorang laki-laki?” Airmatapun mulai mengalir, bukan karena terharu disebabkan ada orang yang “ngefans” tapi karena merasa bahwa diri ini adalah sumber fitnah. Belum bisa menyempurnakan hijab, tidak bisa menjaga diri, dll. Lama diriku merenung. “Kenapa sampai ada yang terfitnah? Toh aku tak pernah berkomunikasi dengannya? Jangankan berbicara, senyumpun tak pernah.” Apa yang menyebabkan semua itu??Apa??? Wajah… Ya inilah sumber dari fitnah itu… Seketika itu pun diriku bertekad dengan kuat untuk mempelajari hukum cadar, walaupun masih teringat dengan kata-kata bapak, namun tak mengurungkan niatku untuk belajar..
Alhamdulillah, Alloh memudahkan jalanku untuk mempelajari ilmu tentang cadar ini, mulai dari dukungan akhwat, cerita cerita akhwat yang memberikan motivasi, buku-buku yang mereka pinjamkan, sampai ketika salah seorang ustadzah dari Arab datang ke kota Serambi Madinahku buat memberikan dirosah. Sampai suatu hari ketika sang ustadzah telah selesai memberikan dirosahnya, kulihat dirinya sedang duduk untuk istirahat, aku pun mengajak seorang kakak untuk menemaniku berbicara kepada ustadzah tentang masalah cadar (karena ketidaktahuanku bercakap dalam bahasa arab, makanya minta tolong ke akhwat buat jadi penerjemahnya. Syukron wa jazaakillahu khair buat kakak yang membantu diriku saat itu.)
Kakak : “Adik ini ingin bertanya kepada anda wahai ustadzah, dia ingin sekali memakai cadar namun orangtuanya melarangnya, tolong berikan nasehatmu padanya.”
Ustadzah: “Kalau dia meyakini bahwa hukum cadar adalah wajib maka apapun konsekuensi yang harus dia dapatkan sekalipun orangtua melarang maka dia tetap harus memakainya, tapi ketika dia meyakini bahwa itu hanyalah sunnah maka lebih baik dia mengikuti permintaan orang tuanya.” (Kira-kira seperti itulah percakapan mereka kalau diterjemahkan dalam bahasa indonesia.)
Sampai suatu ketika keyakinanku mengatakan bahwa cadar itu adalah sebuah kewajiban.
Hemm. Ternyata, point yang kudapatkan dari pernyataan ustadzah adalah “ilmu sebelum berbuat”. Ya, aku harus mempelajarinya lagi lebih dalam tentang cadar (waktu itu aku masih menganggapnya sebatas sunnah). Hari-haripun kulalui dengan berusaha mencari tahu tentang hukum cadar. Mulai dari bertanya ke ustadz, bertanya ke akhwat dan berbagai cara kutempuh untuk mengetahui hukum sebenarnya dari cadar. Sampai suatu ketika keyakinanku mengatakan bahwa cadar itu adalah sebuah kewajiban. Tapi bagaimana dengan orangtua? Inilah ujianku selanjutnya. Aku harus berusaha memahamkan kepada mereka sedikit. Akhirnya akupun berusaha menutupi wajah ini sedikit demi sedikit, walaupun belum menggunakan cadar tapi wajah ini sering kututup dengan jilbabku ketika ada seorang laki-laki ajnabi yang lewat dihadapanku. Dan ini berlangsung sampai beberapa hari.
Suatu hari tiba-tiba keluargaku berkumpul di ruang keluarga, bapakku tiba-tiba mengatakan padaku, “bapak ga mau lihat kamu pakai cadar.” Tiba-tiba suasana di rumah menjadi tegang (ternyata selama ini bapak memperhatikanku, karena begitu seringnya aku menutup wajahku dengan jilbab yang kupakai, sampai beliau mengira bahwa aku telah bercadar waktu itu.) Bapak dengan berbagai ucapannya sambil menunjuk-nunjuk ke arahku mengatakan, “bapak ga mau kamu pakai cadar!!!”
“Apapun alasannya, bapak ga mau kamu pakai cadar. Kalau sampai pakai cadar, kamu jadi anak durhaka sama bapak!!!”
“Ga usah suruh temanmu kesini lagi, kalau ada temanmu yang datang, bapak akan usir.”
Bla..bla..bla… Berbagai macam perkataan bapak pada diriku saat itu.” Aku bisa paham terhadap ucapan bapak, karena memang beliau kurang paham apalagi beliau jarang bermulazamah dengan ustadz-ustadz. Tapi yang membuatku begitu sedih adalah ketika ibuku mendukung argumen bapak dan juga ikut-ikutan memarahiku dan melarangku. Aku kaget, karena yang selama ini aku tahu bahwa ibu mengenal beberapa ustadz dan teman-temanku yang bercadar. Pikirku waktu itu, ibu mungkin setuju-setuju saja pada saat aku bercadar. Tapi ternyata, ibuku pun melarang dan ikut-ikutan memboikotku.
Pada hari itu, bertepatan dengan perginya bapak kembali berlayar, sebelum beliau berangkat beliau datang ke kamarku dan mendapati diriku yang hanya bisa menangis tersedu-sedu dan mengatakan, “Ingat, bapak ga mau kamu pakai cadar!!!” Ya Alloh, sekeras itukah hati bapak, sampai tidak mau mendengarkan penjelasanku tentang cadar, pikirku dalam hati.
Teringat dengan kisah-kisah beberapa akhwat yang juga sempat mengalami kejadian yang sama.
Hari pertama sejak peristiwa malam itu kulalui dengan tangisan di kamar. Menangis, menangis, dan terus menangis. Satu hal yang membuatku begitu sedih ketika melihat sikap ibuku padaku, dulu ketika ada sebuah masalah yang kuperbuat di rumah hingga membuatku menangis tersedu-sedu. Ibu biasanya langsung datang menghiburku dan mengatakan, “sudahlah nak, nda usah menangis lagi.” Tapi sekarang, seakan-akan beliau bukan ibuku, sikapnya yang keras dan cuek saja melihat diriku menangis tetap tidak mengubah pendiriannya untuk melarangku bercadar. Jangankan berbicara padaku, bahkan hanya sekedar menyuruhku makan, beliau menyuruh adikku datang ke kamar. Yang bisa kulakukan saat itu hanya menangis dan berdoa pada Alloh. Namun aku yakin bahwa ujian ini akan segera berakhir, entah sehari, sepekan, sebulan, setahun bahkan bertahun-tahun, ya pasti akan berkahir!! Teringat dengan kisah-kisah beberapa akhwat yang juga sempat mengalami kejadian yang sama. Ada yang menyembunyikan cadarnya hingga dua tahun lamanya. Ada yang hampir diusir oleh orang tuanya. Ada yang cadarnya dibakar. Dan berbagai macam ujian yang dihadapi mereka. Namun toh akhirnya orang tua mereka mengizinkan bahkan sekarang mendukung anaknya..
Hey, kamu baru diuji seperti ini, masa mau nyerah begitu saja. Apa ga ingat gimana perjuangan Rosululloh dan para shahabatnya ketika memperjuangkan islam??? Rosulullah shallallahu ‘alaihi wasallam diusir oleh kaumnya sendiri, kaki beliau berdarah-darah karena dilempar batu. Para shahabat, bahkan ada yang rela tidak diakui oleh ibunya sendiri. Dan kamu ingat Sumayyah? Wanita syahidah pertama yang rela disiksa oleh orang-orang kafir karena memeluk islam, hingga beliau menemui ajalnya. Sekarang lihat dirimu??? Kalau cobaan ini saja bisa membuatmu menyerah dan jauh dari Alloh. Kira-kira ketika kamu hidup pada zaman nabi, apa kamu bisa menjadi salah seorang shahabiyah? Ataukah kamu adalah salah seorang musuh dari islam?
Akupun tersadar setelah melakukan dialog dengan diriku sendiri, segera aku ambil air wudhu dan sholat. Dalam sholat kubaca Surah An-Nashr “innama’al ‘usri yusro..fainnama’al ‘usri yusro” rasanya keyakinan akan pertolongan Alloh semakin dekat itu begitu kuat. Ya, pertolongan itu akan datang fikirku.
Sampai hari ketiga, keadaan di rumah masih tetap sama. Ibu juga nenekku masih memboikotku. Aku masih saja berada dalam kamar sambil memikirkan cara untuk meminta izin kembali ke bapak. Tiba-tiba teringat akan cerita salah seorang kakak. Ketika dia ingin mengutarakan keinginannya memakai cadar kepada orangtuanya, “dek, dulu waktu ana ingin bercadar, orangtua melarang. Namun karena kayakinan yang mantap untuk menutup aurat secara sempurna, akhirnya kutempuh berbagai cara meyakinkan bapak. Dan cara yang kupilih adalah mengirimkan surat ke beliau dengan kalimat yang syahdu, “wahai ayahku. Kutulis surat ini, bla..bla..bla. (Afwan, lupa isi suratnya.)”
Hemmm. Tiba-tiba cara yang ditempuh sang kakak tadi, terlintas di dalam pikiranku. Tapi bukan melalui surat, hanya sms yang bisa kukirimkan kepada bapakku untuk menjelaskan kenapa aku ingin bercadar.
“Assalamu’alaikum, pak kabarnya gimna? Semoga bapak baik-baik saja. Maaf sebelumnya jika saya lancang sms bapak, tapi saya sms hanya ingin menjelaskan kenapa saya ingin bercadar. Maaf pak, bukannya saya ingin menjadi anak yang durhaka karena tidak mematuhi perintah bapak, tapi karena keinginan saya yang ingin mengikuti perintah Alloh makanya saya berani untuk memakai cadar. Saya begitu sedih ketika melihat ekspresi bapak yang begitu marah ketika mengetahui bahwa saya ingin bercadar, seakan-akan bapak sangat membenci cadar. Saya tidak ingin bapak seperti itu, karena cadar juga merupakan bagian dari syari’at islam. Dan yang saya pelajari bahwa istri-istri nabi pun pakai cadar, kalau bapak benci cadar artinya bapak juga benci istri-istri Rosululloh shallallahu ‘alaihi wa sallam. Bla..bla..bla…
Sms yang kukirm begitu panjang, 1 sms sampai 7 layar dan aku mengirimkan sebanyak 3 kali sms. Jadi kalau mau dihitung. Kira-kira aku mengirim sebanyak 21 sms ke bapak.
Beberapa saat setelah kukirimkan sms ke bapak, tiba-tiba ada sms yang masuk ke hp-ku, tapi belum berani kubuka isinya. Sampai akhirnya hpku berdering, ketika kulihat nama yang memanggil ternyata adalah bapakku. Sambil deg-degan kuangkat telpon bapakku, dan siap menerima omelan dari bapak lagi karena kelancanganku untuk meminta izin memakai cadar.
Aku : “Assalamu’alaikum.”
Bapak: “Wa’alaikumsalam, lagi dimana nak???”
Aku: “Di rumah pak. Lagi di kamar.”
Bapak: “Kamu masih nangis??”
Aku: “I..i..iya pak. (Sambil menghapus airmata.)
Bapak: “Bapak dah terima sms dari kamu. Kamu beneran mau pakai cadar???
“Aku: “I..i..iyya pak..”
Bapak: “Ya udah…kalau mau pakai cadar, pakai cadar saja. Asal hati harus lembut ya nak…
“Aku: “Hah??” (Dalam keadaan yang masih belum percaya, tiba2 sikap bapak berubah 180 derajat.) Beneran pak??”
Bapak: “Iya nak… mana mamamu? Bapak mau bicara.”
Akhirnya bapak bicara ke ibu, dan dari percakapannya ibu mengatakan kalau bapak mengizinkan aku pakai cadar. Ibu dilarang untuk melarangku bercadar. Masih belum percaya dengan keputusan bapak, akupun membaca sms yang dikirimkan bapak kepadaku sesaat sebelum beliau menelponku, “ya udah kalau kamu mau pakai cadar bapak izinkan, ingat ya, hati harus lembut..janji ya..” Alhamdulillah, bapak benar-benar mengizinkanku.
Dan akhirnya. Bismillah. Tepat tanggal 5 Ramadhan, aku pun keluar dari rumah pertama kali dengan menggunakan cadar yang menutupi wajahku. Tak henti-hentinya aku mengucapkan syukur di atas angkot dan airmata terus saja mengalir karena akhirnya pertolongan Alloh datang juga setelah 3 hari diriku harus menangis di kamar tanpa henti. Diboikot oleh orang tua sendiri. Yaa, akhirnya akupun memakainya. Semoga pakaian ini akan terus kukenakan hingga ajal menjemput. Amin, Allohumma amin. “yaa muqallibal qulub tsabbit qalbi ‘ala diinik.“
***Seperti yang dikisahkan seorang akhwat***

Hijabmu adalah Izzahmu wahai ukhtiku…!


Wahai ukhti muslimah semoga Allah Subhanahu Wa Ta’ala menunjukimu kepada jalan yang lurus dan melindungimu dari setiap kesesatan dan menjagamu dengan Islam serta menjadikanmu di antara ummat Islam dan orang-orang beriman yang menyambut seruan Allah dan Rasul-Nya. Wahai ukhti muslimah: Hijab, penutup wajahmu adalah kemuliaan dan izzahmu di sisi Allah Subhanahu Wa Ta’ala serta kebahagiaan bagimu di kehidupan dunia dan akhirat. Di akhirat ada pahala dari Allah dan ganjaran yang besar. Dan di dunia (hijab) sebagai benteng kemuliaan dan kehormatanmu.
Wahai ukhti yang mulia: Sesungguhnya wajah wanita adalah letak kecantikan mereka, wajah mengungkapkan kemolekan dan keindahannya. Dan apabila seorang wanita meninggalkan hijabnya dan melepaskan hijab dari wajahnya, orang-orang dari lawan jenisnya yang bukan mahram baginya akan dengan leluasa dapat melihat dan memandang kepadanya. Dan akibatnya dia akan diganggu atau digoda dan laki-laki akan berusaha untuk mendekatinya dan hasilnya adalah kemudharatan dan kehinaan –hanya kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala kita mohon keselamatan-.
Wahai ukhti muslimah, tidak sadarkah engkau bahwa (berhasilnya -pentj) para penjajah sesat meruntuhkan bangunan Islam di negeri-negeri pemeluknya dan menyibak kehormatan mereka serta menebar di tengah-tengah ummatnya berbagai bentuk kenistaan dan menjajakan kebatilan dan menjauhkan mereka dari agama mereka tidak lain adalah dengan cara merusak kaum wanitanya. Sehingga akhirnya wanita-wanita muslimah mencampakkan hijabnya, menyambut seruan mereka yang hidup di bawah didikan musuh-musuh Islam, orang-orang yang terperdaya oleh mereka, lantas merealisasikan rencana busuk mereka, memerangi hijab dan menyangka bahwa hijab adalah paksaan, mencelakakan kaum wanita, mengekang dan mengurung mereka dari bersosialisasi dengan lawan jenis, dan bahwa hijab adalah sebab tersisihnya mereka dari masyarakat.
Wahai ukhti muslimah, dahulu wanita-wanita Islam mengenakan hijab dan di kala itu hijab adalah suatu ajaran yang disyariatkan pada kurun-kurun yang lampau. Dan orang-orang yang mengatakan wanita boleh menampakkan wajahnya dan kedua tangannya dengan dalil “dan janganlah mereka menampakkan perhiasan mereka kecuali yang (biasa) nampak dari mereka” (Qs. An-Nuur: 31) adalah pendapat yang lemah, tidak bisa dijadikan pegangan. Dan para pakar berpendapat bahwa arti “kecuali yang (biasa) nampak dari mereka” adalah pakaian luar bukan maksudnya membuka wajah dan kedua tangan.
Wahai ukhti muslimah berapa besar kerusakan yang menimpa agama wanita-wanita muslimah akibat mereka menanggalkan hijab, barapa banyak orang-orang fasik yang akhirnya berhasil memperdaya mereka dan betapa perbuatan ini telah mengakibatkan lemahnya pertahanan seorang wanita dan kepribadiannya serta hilangnya kehormatan, kemuliaan dan kesucian mereka.
Wahai ukhti muslimah, jangan kalian terperdaya dengan orang-orang yang tertipu oleh kebudayaan timur dan barat. Jangan sampai orang-orang yang dididik di negeri-negeri musuh Islam memperdaya kalian. Mereka datang membawa pola pikir barat yang serba boleh untuk diterapkan kepada wanita-wanita muslimah. Mereka menginginkan agar wanita-wanita muslimah membuka wajah-wajah mereka dan agar mereka mengenakan pakaian setengah telanjang dan agar mereka berbaur dengan laki-laki di pasar berjual-beli antara laki-laki dan wanita tanpa rasa malu dan sungkan, bersenda gurau di antara mereka tanpa batasan sama sekali. Mereka ingin agar wanita-wanita muslimah membuang fitrah mereka dan mematikan kepribadian mereka dan membumihanguskan akhlak mereka dan menjerumuskan mereka ke berbagai macam kerusakan dan kehinaan, “laknat Allah bagi mereka; bagaimana mereka sampai berpaling”. (Qs. At-Taubah: 30)
Yang kami yakini sebagai agama bahwa hijab hukumnya adalah wajib bagi kaum wanita. Dan lahiriyah ayat-ayat Al Qur’an adalah bukti akan hal ini. Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman, “Hai Nabi, katakanlah kepada istri-istrimu, anak-anak perempuanmu, dan istri-istri orang mukmin agar hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka. Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal, karena itu mereka tidak diganggu”. (Qs. Al Ahzab: 59)
Dan firman-Nya, “agar hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka”, maksudnya adalah mengulurkannya ke wajah dan dada dengannya mereka tutupi tubuh mereka dari pandangan laki-laki. Dan Allah Subhanahu Wa Ta’ala juga berfirman, “Apabila kamu meminta sesuatu (keperluan) kepada mereka (isteri-isteri Nabi), maka mintalah dari belakang hijab, cara yang demikian itu lebih suci bagi hatimu dan hati mereka”. (Qs. Al Ahzab: 53)
Wahai ikhwan sekalian, sucinya hati seorang muslim adalah ketika menyaksikan wanita muslimah berhijab. Dan sucinya hati seorang muslimah adalah ketka mereka berhijab. Dan meninggalkan hijab hanya mewarisi penyakit di dalam hati laki-laki dan perempuan. Hati-hatilah kalian dari tipudaya orang-orang yang mengatakan bahwa sebagian ulama yang melarang wanita membuka wajah mereka bukan para pakar dan bukan ulama rujukan yang diperhitungkan, karena sesungguhnya mereka –semoga Allah memberi hidayah kepada kita semua serta mereka- hanya ingin mencampakkan akhlak yang mulia dan adab-adab yang tinggi dan bahwasanya wanita boleh melakukan perbuatan sesuka hatinya dan mereka tidak harus berpegang dengan syari’at. Semoga Allah mengembalikan semua kepada kebenaran dan memberi kita dan mereka petunjuk-Nya kepada jalan yang lurus.
Nurun ‘Alad Darb: Selasa 11-4-1427 H.

Minggu, 06 November 2011

IBUNDA PARA ULAMA part 2

KRITERIA IBU YANG BAIK DALAM ISLAM

     Al-Ustadz Sa'ad Karim dalam bukunya, Nasha'ih lil Aba Qabla 'Uquqil Abna', mengatakan bahwa seorang ibu memiliki peran penting dalam mendidik anaknya. Jika ia 'memainkan' peran tersebut dengan baik, kelak ia akan memetik buah manisnya dari sang anak berupa ketaatan, birrul walidain, dan kesuksesan. Namun jika ia menyia-nyiakan perannya, kelak ia hanya menuai kedurkahaan dan sikap kurang ajar.
     Peran paling mendasar yang dimainkan oleh seorang ibu di antaranya ialah menanamkan norma-norma luhur dan budi pekerti mulia dalam dirinya sendiri terlebih dahulu, karena orang yang tidak punya sesuatu tidak mungkin memberinya ke orang lain.
     Al-Qur'an telah menentukan karakter seorang ibu yang baik dan shalihah tadi dalam firman Allah SWT ; "Maka wanita yang shalihah ialah yang taat kepada Allah lagi memelihara diri ketika suaminya tidak ada, oleh karena Allah telah memelihara mereka." (QS. an-Nisa':34)
     Ini merupakan kriteria tambahan yang menjadi ciri wanita shalihah setelah ia menunaikan kewajibannya membesarkan anaknya dengan penuh kasih sayang dan mencurahkansegenap perhatiaany dalam mendidik si anak.
     Nabi SAW pernah memuji wanita Quraisy karena rasa kasih sayang mereka yang besar terhadap anak-anak. Beliau bersabda,"Sebaik-baik wanita Arab adalah wanita Quraisy, merekalah yang paling belas kasih terhadap anaknya dan paling perhatian terhadap urusan suaminya."
     Karena, seorang istri shalihah yang taat beragama lebih afdhal dari istri lainnya, serta lebih cocok untuk diajak membangun rumah tangga yang mapan, dan melahirkan keturunan yang shalihlagi berbakti pada orang tua.
     Utsman bin Affan ra. pernah berpesan kepada anak-anaknya, "wahai anak-anakku, sesungguhnya orang yang hendak menikah itu ibarat orang yang hendak menyemai benih. Maka hendaklah ia memperhatikan dimana ia akan menyemainya. Dan ingatlah bahwa (wanita yang berasal dari keturunan yang jelek jarang sekali melahirkan keturunan yang baik, maka pilih-pilihlah terlebih dahulu meskipun sejenak."

IBUNDA PARA ULAMA

IBUNDA PARA ULAMA adalah buku karangan SUFYAN BIN FUAD BASWEDAN , yang menurut ana pribadi adalah buku yang menarik karena sesuai dengan judulnya IBUNDA PARA ULAMA .. maka yang akan diceritakan didalamnya adalah biodata para ulama dan biodata 'madrasah pertama' mereka yaitu ibunda-ibunda mereka yang mendidik dengan Islami yang sesuai tuntunan ALLAH SWT. dan RASULULLAH SAW. 

TAPI.,, disini ana hanya ingin mengenalkan dibagian mana ana mulai tertarik dan menyukai buku ini.. MUKADDIMAH,, ya..... bagian mukaddimah yang membuat ana tertarik dan jatuh cinta dengan buku ini, SUBHANALLAH , hanya itu yang ana ungkapkan pertama kali setelah membacanya.

Maka itu, ana ingin membaginya kepada para pembaca, sekaligus ajang promosi ana agar kalian para pembaca juga jatuh cinta dengan buku ini.


MUKADDIMAH

Mencermati kehidupan kaum hawa memang penuh keunikan. Di satu sisi, jumlah mereka lebih banyak dari laki-laki, bahkan di beberapa negara seperti Cina, jumlah mereka sekian kali lipat dibanding laki-laki. Namun di sisi lain, kiprah mereka dalam sejarah seakan terabaikan dan terpinggirkan dari pena para sejarawan. Inilah kendala terbesar yang penulis hadapi selama penulisan buku ini. Terpaksa kami harus membuka kitab-kitab tarikh yang tebal lembar demi lembar, demi mendapatkan sepenggal cerita. Ini dikarenakan minimnya literatur yang membahas tentang peran wanita dalam 'mencetak lelaki sejati'. Padahal jika kita perhatikan, sungguh besar peran yang mereka mainkan 'di balik layar' dalam mengantarkan 'si kecil' menjadi alim besar, atau mujahid sejati.

PERAN IBU DALAM MENDIDIK ANAK

     Di balik pria yang agung, ada wanita agung di belakangnya. Demikian kata orang bijak tempo dulu. Jika ada lelaki yang menjadi ulama cendekia, tokoh ternama, atau pahlawan ksatria, lihatlah ibu mereka. Karena ibu memiliki peran besar dalam mebentuk watak, karakter, dan pengetahuan seseorang. Ibu adalah ustadzah pertama, sebelum si kecilberguru kepada ustadz besar manapun. Maka kecerdasan, keuletan, dan perangai sang ibu adalah faktor dominan bagi masa depan anak. Termasuk ibu susu. Karena Rasulullah SAW. melarang para orang tua menyusukan bayi mereka pada wanita yang lemah akan karena air susu dapat mewariskan sifat-sifat ibu pada si bayi. 
     Dalam kitab ar-Raudhul Unuf disebutkan bahwa persusuan itu seperti hubungan darah (nasab), ia dapat mempengaruhi watak seseorang. Kemudian penulisnya menyitir sebuah hadits dari Aisyah ra. secara marfu',"Janganlah kalian menyusukan bayi kalian kepada wanita bodoh, karena air susu akan mewariskan sifat sang ibu."
     Salah seorang sahabat Nabi yang bernama Aktsam bin Shaifi ra. pernah berwasiat kepada kaumnya. Diantaranya is mengatakan, "Kuwasiatkan kepada kalian agar senantiasa bertaqwa kepada Allah dan menyambung tali silaturahmi. Dengan keduanya akar (keimanan) akan selalu tegak, dan cabangnya tak akan bengkok. Hati-hatilah kalian jangan sampai menikahi wanita yang dungu, karena hidup bersamanya adalah kenistaan."
     Memang demikianlah faktanya; wanita dungu hanya akan merepotkan suaminya, sulit dididik dan sukar diatur. Anaknya pun akan terlantar dan salah asuhan.
     Pernah suatu ketika ada seorang bapak yang mengeluh kepada Amirul Mukminin Umar bin Khathab ra. mengenai anaknya yang durhaka. Orang itu mengatakan bahwa putranya selalu berkata kasar kepadanya dan sering kali memukulnya. Maka Umar pun memanggil anak itu dan memarahinya.
     "Celaka engkau! Tidakkah engkau tahu bahwa durhaka kepada orang tua adalah dosa besar yang mengundang murka Allah?" bentak Umar.
     "Tunggu dulu, wahai Amirul Mukminin. Jangan tergesa-gesa mengadiliku. Jikalau memang seorang ayah memiliki hak terhadap anaknya, bukankah si anak juga punya hak terhadap ayahnya?" tanya si anak.
     "Benar," jawab Umar. "Lantas, apakah hak anak terhadapa ayahnya tadi?" lanjut si anak.
     "Ada tiga," jawab Umar. "Pertama, hendaklah ia memilih calon ibu yang baik bagi puteranya. Kedua, hendaklah menamainya dengan nama yang baik. Ketiga, hendaklah ia mengajarinya menghafal Al-Qur'an."
     Maka si anak mengatakan, "Ketahuilah wahai Amirul Mukminin, ayahku tak pernah melakukan satu pun dari tiga hal tersebut. Ia tidak memilih calon ibu yang baik bagiku;ibuku adalah hamba sahaya jelek berkulit hitam yang dibelinya dari pasar seharga du dirham, lalu malamnya is gauli sehingga hamil mengandungku! Setelah aku lahir pun ayah menamiku Ju'al(kumbang yang bergumur di kotoran hewan), dan ia tak pernah mengajariku menghafal Al-Qur'an walau seayat!'
     "Pergi sana!Kaulah yang mendurkahainya sewaktu kecil, pantas kalau ia durhaka kepadamu sekarang," bentak Umar kepada ayahnya.
     Begitulah ibu, memiliki peran begitu besar dalam menentukan masa depan si kecil. Ibu, dengan kasih sayangnya yang tulus merupakan tambatan hati bagi si kecil dalam menapaki masa depannya. Di sisinyalah si kecil mendapatkan kehangatan. Senyuman dan belaian tangan ibu akan mengobarkan semangatnya. Jari-jemari lembut yang senantiasa menengadah ke langit, teriring doa yang tulus dan deraian air mata bagibuah hati, adalah kunci kesuksesannya di hari esok. 
     Dalam Siyar-nya, adz-Dzahabi mengisahkan dari Muhammad bin Ahmad bin Fadhal al-Bakhi, ia mendengar ayahnya mengatakan bahwa kedua mata Imam al-Bukhari sempat buta semasa kanak-kanak. Namun pada suatu malam, ibunya bermimpi bahwa ia berjumpa dengan Nabi Ibrahim. Nabi Ibrahim berkata kepadanya, "Hai ibu, sesungguhnya Allah telah berkenan mengembalikan penglihatan anakmu karena cucuran air mata dan banyaknya doa yang kau panjatkan kepada-Nya." Maka setelah kami periksa keesokan harinya, ternyata penglihatan al-Bukhari benar-benar telah kembali.